Gadis di Balik Layar
Dira seorang gadis desa
yang mempunyai paras cantik. Di desanya, ia menjadi pujaan hati para pria. Ia
memiliki sifat yang lemah lembut dan suka menolong orang lain. Walaupun ia
hidup serba kekurangan, ia tak pernah lupa memberi makan anak-anak panti asuhan
di desanya. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang sudah tua renta di sebuah
rumah kecil.
Suatu hari, Dira
meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mencari pekerjaan di Jakarta.
Awalnya, kedua orang tuannya tidak mengizinkan, tetapi karena melihat anaknya
yang memiliki tekad kuat untuk bekerja, mereka pun mengizinkan Dira untuk pergi
ke Jakarta. Ketika Dira hendak pergi, kedua orang tuanya menangis. Tetes demi
tetes air mata turun dan membasahi pipi mereka. Dira pun tak tahan melihat air
mata kedua orang tuanya yang terus menetes. Dira pun bergegas menuju terminal
dengan hati dan langkah yang berat untuk meninggalkan kedua orang tuanya di
desa. Tetapi, bagaimana lagi, krisis ekonomi keluarganya yang mendorong Dira
untuk pergi ke Jakarta dan bekerja di sana.
Ketika sampai di
Jakarta, ia langsung mencari lowongan pekerjaan sekaligus melamarnya. Terik
matahari yang menyengat tak memudarkan semangat Dira dalam mencari pekerjaan.
Mulai dari pegawai kantoran, pegawai pabrik, kasir toko, sampai pelayan
restoran, ia lamar. Dari lamaran yang diajukan, ia hanya diterima bekerja
menjadi seorang pelayan restoran.
Restoran yang Dira
lamar mewajibkan pelayan putri untuk memakai rok pendek dan harus bersolek.
Dira merasa tak nyaman dengan lingkungan yang diterimanya. Ia tak terbiasa
memakai rok pendek apalagi bersolek. Akan tetapi, keadaan memaksaan dirinya
untuk melakukan itu semua.
Hari demi hari
terlewati, Dira sudah dapat mengumpulkan uang hasil jerih payahnya. Ia tak lupa
mengirim uang kepada kedua orang tuanya di desa. Ia juga tak lupa memberi makan
anak-anak jalanan. Dalam hatinya ia merasa senang ketika melihat para anak
jalanan melahap makanan hasil pemberiannya dengan sangat nikmat.
Suatu ketika, Dira
bertemu dengan seorang wanita di sekitar jalan menuju arah restoran, tempat
kerjanya. Wanita itu bernama Sera. Ia seorang wanita penghibur. Mereka pun
berkenalan dan langsung berbincang-bincang panjang lebar. Dira ditawarkan
pekerjaan oleh wanita itu dengan gaji yang sangat tinggi. Dira pun tertarik
akan tawarin itu. Entah apa pekerjaannya. Ia berpikir dengan mempunyai banyak
uang ia dapat membantu perekonomian keluarganya. Ia juga bisa menolong banyak
anak jalanan.
Malam tiba, Dira diajak
oleh Sera keluar malam menuju tempat bekerjanya. Dira kaget dengan banyak
laki-laki yang bercampur baur dengan perempuan dalam satu tempat. Sera
menugaskan kepada Dira untuk menemui seorang pria yang sudah menunggunya. Dira
pun langsung menemui dan duduk bersamanya. Awalnya, Dira merasa canggung. Akan
tetapi, lama kelamaan Dira sudah terbiasa. Karena paras cantik yang dimiliki
Dira, ia menjadi langganan para pria di tempat hiburan malam itu. Hanya modal
paras yang cantik, Dira dapat mengumpulkan uang sampai ratusan juta. Dira pun
tak lupa membagikan makanan kepada anak jalanan. Dira memakai uang hasil
hiburan malam untuk membantu anak-anak jalanan tersebut. Ia merasa senang dapat
membantu lebih banyak anak jalanan. Walaupun dengan uang hasil hiburan malam
yang menurut agama termasuk uang haram.
Hari-harinya hanya ia
habiskan untuk bekerja dan memberi makan anak-anak jalanan. Terkadang, ia
selalu merasakan hati yang tidak tenang, entah perasaan apa yang menimpanya.
“Aku selalu membantu orang, tapi kenapa hatiku selalu bertambah gelisah?” tanya
Dira dalam batin.
Suatu hari, di
persimpangan jalan menuju tempat hiburan malam, Dira berpapasan dengan seorang
pria yang memakai peci. Pandangan Dira terus menuju ke arah pria itu. Awal
berpapasan, Dira sudah menaruh hati kepada pria itu. Dira pun membatalkan pergi
ke tempat hiburan malam. Dira memutuskan untuk mengikuti langkah kaki pria itu.
Entah kemana pria itu pergi. Dira terus mengikutinya. Pria itu berhenti di
sebuah rumah kecil yamg sangat sederhana. Itu adalah tempat tinggalnya. Dira
pun berhenti, dan menyapa pria itu. “Mas” dengan nada pelan terucap dari bibir
Dira. Pria itu pun menengok ke belakang dengan kaget, “Astaghfirullah”,
ucap pria itu. Pantas saja pria itu kaget, pakaian yang dipakai Dira sangat
ketat. Awal pertemuan itulah, Dira mengenal sosok seorang pria sholeh bernama
Ahmad.
Setiap seminggu sekali,
Dira menemui Ahmad. Ia meminta solusi kepada Ahmad terkait pekerjaan yang
sedang dijalani dan kegelisahan hati yang menimpanya. Ia dengan terang-terangan
menceritakan tentang pekerjaanya sebagai wanita penghibur malam dan mengapa
hatinya selalu gelisah. Padahal ia tak lupa menolong orang-orang sekitar yang
kurang mampu. “Pantas saja kau merasa gelisah”, ucap Ahmad. “Pantas bagaimana?”
jawab Dira. “Memang niatmu bagus membantu orang lain tetapi caramu salah dalam
mencari uang untuk membantu orang-orang sekitar. Allah tidak menyukai hamba-Nya
memakai uang haram untuk menolong orang lain. Walaupun menolong orang lain itu
baik. Akan tetapi, jika kita menolong dengan hasil uang haram itu sama sekali
tidak ada artinya,” terang Ahmad. Mulai dari penjelasan Ahmad lah, Dira sadar
akan perbuatnnya. Dira menangis, sambil berucap, “Apakah masih ada maaf dari
Allah untuk seorang wanita yang rendah diri dan penuh dosa sepertiku ini?”
“Cobalah bertaubat, meminta ampunan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah
itu Maha Pemaaf. Allah selalu mengampuni hamba-Nya sekalipun hamba tersebut
banyak dosa kepada-Nya.” tegas Ahmad. Ucapan Ahmad sangat mendorong dan
memotivasi Dira untuk bertaubat.
Dira memohon ampunan
kepada Allah, ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dira
sangat bersyukur dapat bertemu dengan Ahmad yang dapat mengubah pola pikir dan
dirinya menjadi lebih baik. Dira memutuskan untuk berhijrah. Ia mulai memakai
jilbab dan pakaian yang syar’i. Tak terduga, Ahmad juga menaruh hati kepada
Dira. Ahmad tidak peduli dengan masa lalu Dira. Ahmad pun segera melamar
Dira. Karena sikap Ahmad yang bijaksana,
tidak menuntut ini itu, Dira langsung menerima lamaran dari Ahmad. Akhirnya,
mereka pun menikah dan dikarunia dua anak.

Komentar
Posting Komentar