Gadis di Balik Layar

(sumber ilustrasi: https://sepositif.com/2017/04/kata-kata-motivasi-wanita-muslimah-berhijab-terbaik/)

Dira seorang gadis desa yang mempunyai paras cantik. Di desanya, ia menjadi pujaan hati para pria. Ia memiliki sifat yang lemah lembut dan suka menolong orang lain. Walaupun ia hidup serba kekurangan, ia tak pernah lupa memberi makan anak-anak panti asuhan di desanya. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang sudah tua renta di sebuah rumah kecil.

Suatu hari, Dira meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Awalnya, kedua orang tuannya tidak mengizinkan, tetapi karena melihat anaknya yang memiliki tekad kuat untuk bekerja, mereka pun mengizinkan Dira untuk pergi ke Jakarta. Ketika Dira hendak pergi, kedua orang tuanya menangis. Tetes demi tetes air mata turun dan membasahi pipi mereka. Dira pun tak tahan melihat air mata kedua orang tuanya yang terus menetes. Dira pun bergegas menuju terminal dengan hati dan langkah yang berat untuk meninggalkan kedua orang tuanya di desa. Tetapi, bagaimana lagi, krisis ekonomi keluarganya yang mendorong Dira untuk pergi ke Jakarta dan bekerja di sana.

Ketika sampai di Jakarta, ia langsung mencari lowongan pekerjaan sekaligus melamarnya. Terik matahari yang menyengat tak memudarkan semangat Dira dalam mencari pekerjaan. Mulai dari pegawai kantoran, pegawai pabrik, kasir toko, sampai pelayan restoran, ia lamar. Dari lamaran yang diajukan, ia hanya diterima bekerja menjadi seorang pelayan restoran.

Restoran yang Dira lamar mewajibkan pelayan putri untuk memakai rok pendek dan harus bersolek. Dira merasa tak nyaman dengan lingkungan yang diterimanya. Ia tak terbiasa memakai rok pendek apalagi bersolek. Akan tetapi, keadaan memaksaan dirinya untuk melakukan itu semua.

Hari demi hari terlewati, Dira sudah dapat mengumpulkan uang hasil jerih payahnya. Ia tak lupa mengirim uang kepada kedua orang tuanya di desa. Ia juga tak lupa memberi makan anak-anak jalanan. Dalam hatinya ia merasa senang ketika melihat para anak jalanan melahap makanan hasil pemberiannya dengan sangat nikmat.

Suatu ketika, Dira bertemu dengan seorang wanita di sekitar jalan menuju arah restoran, tempat kerjanya. Wanita itu bernama Sera. Ia seorang wanita penghibur. Mereka pun berkenalan dan langsung berbincang-bincang panjang lebar. Dira ditawarkan pekerjaan oleh wanita itu dengan gaji yang sangat tinggi. Dira pun tertarik akan tawarin itu. Entah apa pekerjaannya. Ia berpikir dengan mempunyai banyak uang ia dapat membantu perekonomian keluarganya. Ia juga bisa menolong banyak anak jalanan.

Malam tiba, Dira diajak oleh Sera keluar malam menuju tempat bekerjanya. Dira kaget dengan banyak laki-laki yang bercampur baur dengan perempuan dalam satu tempat. Sera menugaskan kepada Dira untuk menemui seorang pria yang sudah menunggunya. Dira pun langsung menemui dan duduk bersamanya. Awalnya, Dira merasa canggung. Akan tetapi, lama kelamaan Dira sudah terbiasa. Karena paras cantik yang dimiliki Dira, ia menjadi langganan para pria di tempat hiburan malam itu. Hanya modal paras yang cantik, Dira dapat mengumpulkan uang sampai ratusan juta. Dira pun tak lupa membagikan makanan kepada anak jalanan. Dira memakai uang hasil hiburan malam untuk membantu anak-anak jalanan tersebut. Ia merasa senang dapat membantu lebih banyak anak jalanan. Walaupun dengan uang hasil hiburan malam yang menurut agama termasuk uang haram.

Hari-harinya hanya ia habiskan untuk bekerja dan memberi makan anak-anak jalanan. Terkadang, ia selalu merasakan hati yang tidak tenang, entah perasaan apa yang menimpanya. “Aku selalu membantu orang, tapi kenapa hatiku selalu bertambah gelisah?” tanya Dira dalam batin.

Suatu hari, di persimpangan jalan menuju tempat hiburan malam, Dira berpapasan dengan seorang pria yang memakai peci. Pandangan Dira terus menuju ke arah pria itu. Awal berpapasan, Dira sudah menaruh hati kepada pria itu. Dira pun membatalkan pergi ke tempat hiburan malam. Dira memutuskan untuk mengikuti langkah kaki pria itu. Entah kemana pria itu pergi. Dira terus mengikutinya. Pria itu berhenti di sebuah rumah kecil yamg sangat sederhana. Itu adalah tempat tinggalnya. Dira pun berhenti, dan menyapa pria itu. “Mas” dengan nada pelan terucap dari bibir Dira. Pria itu pun menengok ke belakang dengan kaget, “Astaghfirullah”, ucap pria itu. Pantas saja pria itu kaget, pakaian yang dipakai Dira sangat ketat. Awal pertemuan itulah, Dira mengenal sosok seorang pria sholeh bernama Ahmad.

Setiap seminggu sekali, Dira menemui Ahmad. Ia meminta solusi kepada Ahmad terkait pekerjaan yang sedang dijalani dan kegelisahan hati yang menimpanya. Ia dengan terang-terangan menceritakan tentang pekerjaanya sebagai wanita penghibur malam dan mengapa hatinya selalu gelisah. Padahal ia tak lupa menolong orang-orang sekitar yang kurang mampu. “Pantas saja kau merasa gelisah”, ucap Ahmad. “Pantas bagaimana?” jawab Dira. “Memang niatmu bagus membantu orang lain tetapi caramu salah dalam mencari uang untuk membantu orang-orang sekitar. Allah tidak menyukai hamba-Nya memakai uang haram untuk menolong orang lain. Walaupun menolong orang lain itu baik. Akan tetapi, jika kita menolong dengan hasil uang haram itu sama sekali tidak ada artinya,” terang Ahmad. Mulai dari penjelasan Ahmad lah, Dira sadar akan perbuatnnya. Dira menangis, sambil berucap, “Apakah masih ada maaf dari Allah untuk seorang wanita yang rendah diri dan penuh dosa sepertiku ini?” “Cobalah bertaubat, meminta ampunan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah itu Maha Pemaaf. Allah selalu mengampuni hamba-Nya sekalipun hamba tersebut banyak dosa kepada-Nya.” tegas Ahmad. Ucapan Ahmad sangat mendorong dan memotivasi Dira untuk bertaubat.

Dira memohon ampunan kepada Allah, ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dira sangat bersyukur dapat bertemu dengan Ahmad yang dapat mengubah pola pikir dan dirinya menjadi lebih baik. Dira memutuskan untuk berhijrah. Ia mulai memakai jilbab dan pakaian yang syar’i. Tak terduga, Ahmad juga menaruh hati kepada Dira. Ahmad tidak peduli dengan masa lalu Dira. Ahmad pun segera melamar Dira.  Karena sikap Ahmad yang bijaksana, tidak menuntut ini itu, Dira langsung menerima lamaran dari Ahmad. Akhirnya, mereka pun menikah dan dikarunia dua anak.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alunan Kisah

Puisi Menantimu

Menjerit dalam Hati