Menjerit dalam Hati
Bibir yang kubiarkan tertutup rapat.
Seolah dalam setiap keramaian kuselalu terdiam, tak peduli dengan lingkungan
sekitar. Hati ini terus menahan sakit akan kepedihan masalah yang
menimpaku. Ingin aku meluapkan semua amarah yang terpendam dalam benakku. Tapi,
rasanya mustahil. Pasti orang tidak akan mendengar apa pun yang kuucapkan.
Aku hidup dalam
lingkungan yang penuh dengan kejahatan. Di sekeliling jalan, banyak
tulisan-tulisan kotor terpampang di tembok lusuh yang sudah pudar warna catnya.
Di pinggir jalan banyak botol alkohol berceceran. Aku tak habis pikir jika
keadaan ini terus dibiarkan. Aku baru saja sadar, aku ini hanya anak jalanan
yang dipaksa mengamen di jalanan oleh orang yang tak aku kenal. Lebih tepatnya,
aku anak culikan.
Setiap hari aku
mengamen di jalanan untuk mendapatkan uang receh yang tak seberapa. Hatiku
terasa tak ikhlas jika uang hasil ngamenku, kusetorkan kepada lelaki bertubuh
kekar yang bernama Badrock. Ia adalah narapidana yang berhasil lolos dari
penjara selama puluhan tahun.
Pekerjaannya hanya mencari anak jalanan untuk dijadikan suruhan seperti mengamen
di jalanan. Lalu, anak-anak suruhannya diminta untuk menyetorkan seluruh uang
hasil mengamennya. Jika aku tidak menyetorkan uang ngamen aku tak dapat makan.
Pernah aku tidak menyetorkan uang kepadanya. Hasilnya, aku tak dapat makan. Aku
merasa kesakitan, menahan lapar yang terus menerjang. Aku hanya meminta
sepotong roti pun tak dikasih oleh Badrock. Aku pun memutuskan untuk tidur
sambil memegang perut yang keroncongan.
Pagi
tiba, aku memilih ngamen lebih awal daripada terus menerus di tempat seorang
narapidana yang menyeramkan. Ingin sekali aku kabur, tapi rasanya tak mungkin.
Di manapun aku berada, pasti Ia dapat menemukanku. Pantas lah dia dapat
menemukanku dengan sanga mudah. Sebab, ia sudah mengetahui betul tempat-tempat
yang ada disini. Pernah sekali aku kabur, aku sudah tak tahan dengan perlakuan
kasar darinya. Akan tetapi, aku gagal untuk kabur. Aku berhasil ditemukan
olehnya, lalu diseret ke tempat semula. Tempat yang menyeramkan.
Kejadian tak biasa, aku
dibawa ke suatu tempat yang penuh dengan rahasia. Tepatnya, rumah mewah yang
berdiri sendiri di tengah hutan. Suasananya begitu tenang, sunyi, namun juga
menyeramkan. Badrock memintaku untuk pindah ke tempat ini. Dia bersikap halus
kepadaku. Aku bingung menanggapinya, tidak seperti biasa dia bersikap halus
padaku. Dalam hati, ku sedikit curiga. Tapi, biarlah mungkin dia sadar dengan
perlakuan kasarnya.
Senangnya aku pindah
dan lepas dari genggaman Badrock. Akan tetapi, firasatku tidak enak setelah
masuk ke dalam tempat ini. Aku mencium aroma obat bius dari suatu kamar yang
sangat kucurigai. Aku pun mengintip lewat lubang kunci di pegangan pintu.
Sedikit demi sedikit aku dapat melihat dengan jelas.
Hal tak terduga,
seorang anak kecil dibius dan dibelah dadanya. Entah untuk apa kegiatan ilegal
tersebut dioperasikan. Dalam pikiranku terlintas, “Jangan-jangan hal itu juga
sama menimpaku”. Aku pun bergegas berlari untuk kabur. Tapi sayang semua pintu
rumah tergembok, dan niat kaburku
ketahuan oleh penjaga rumah itu. Aku langsung dikurung bersama anak-anak
jalanan yang seumuran denganku. Aku merasa ketakutan, dalam benakku aku tak mau
kejadian seperti ini. Lebih baik aku mengamen dan menerima bentakan atau
pukulan dari Badrock daripada harus mengorbankan nyawa sendiri untuk hal yang
tak pasti.
Aku tak mau mati
sia-sia. Aku masih ingin hidup. Barangkali ada orang tua yang mau mengadopsiku
menjadi anaknya. Aaah lupakan, hal terpenting saat ini adalah bagaimana aku
bisa kabur. Aku menyusun rencana bersama kawan-kawanku untuk menjebol tembok
dengan berbagai alat yang tersedia di kurungan.
Perlahan-lahan, aku
membuat lubang kecil dengan besi dan kayu. Aku jadikan besi itu sebagai alat
pahat dan kayu untuk memukul besinya. Sedikit-demi sedikit, timbullah lubang.
Walaupun menguras tenagaku, aku tak ingin mengeluh apalagi menyerah. Aku terus
membuat lubang. Akhirnya, ukuran lubang tembok pun membesar. “Cukuplah, untuk
anak kecil sepertiku yang berumur 13 tahun untuk melewati lubang ini”, kataku
dengan riang. Satu per satu, aku dan kawan-kawan melewati lubang ini.
Setelah itu, aku
berlari dengan kencang untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Akhirnya, aku
menemukan jalan keluar, aku bergegas mencari kantor polisi untuk melaporkan
kejadian ilegal di rumah mewah di tengah hutan. Aku terus berlari sampai
keringat pun bercucuran. Tak kusangka, ada gerombolan mobil polisi menuju ke
arahku. Polisi itu pun keluar menuju ke arahku, tanpa basa-basi, aku langsung
melaporkan mengenai kejadian ilegal di rumah mewah itu dengan nada ngos-ngosan.
Polisi pun paham, sebab
tujuan dari patrolinya adalah mencari seorang narapidana bernama Badrock dan
menghentikan operasi ilegal di rumah mewah. Setelah perbincangan yang begitu
serius selesai, aku dibawa para polisi ke dalam mobil untuk menunjukkan tempat
persembunyian Badrock. Tak butuh waktu lama, polisi pun dapat menangkap Badrock
dan menghentikan operasi ilegal di rumah mewah. Semua orang yang terlibat dalam
operasi ilegal itu berhasil ditangkap.
Aku
merasa senang, akhirnya segala kejahatan di sekitarku terbongkar dan
tertuntaskan. Aku pun mendapat tempat yang layak yaitu tempat perlindungan
anak. Di sana, aku mendapat banyak
pembelajaran yang dapat dijadikan motivasi dan semangat hidup.

Komentar
Posting Komentar