Menjerit dalam Hati

 

(sumber ilustrasi : https://cdn-image.hipwee.com/)

Bibir yang kubiarkan tertutup rapat. Seolah dalam setiap keramaian kuselalu terdiam, tak peduli dengan lingkungan sekitar. Hati ini terus menahan sakit akan kepedihan masalah yang menimpaku. Ingin aku meluapkan semua amarah yang terpendam dalam benakku. Tapi, rasanya mustahil. Pasti orang tidak akan mendengar apa pun yang kuucapkan.

Aku hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kejahatan. Di sekeliling jalan, banyak tulisan-tulisan kotor terpampang di tembok lusuh yang sudah pudar warna catnya. Di pinggir jalan banyak botol alkohol berceceran. Aku tak habis pikir jika keadaan ini terus dibiarkan. Aku baru saja sadar, aku ini hanya anak jalanan yang dipaksa mengamen di jalanan oleh orang yang tak aku kenal. Lebih tepatnya, aku anak culikan.

Setiap hari aku mengamen di jalanan untuk mendapatkan uang receh yang tak seberapa. Hatiku terasa tak ikhlas jika uang hasil ngamenku, kusetorkan kepada lelaki bertubuh kekar yang bernama Badrock. Ia adalah narapidana yang berhasil lolos dari penjara selama puluhan tahun.  Pekerjaannya hanya mencari anak jalanan untuk dijadikan suruhan seperti mengamen di jalanan. Lalu, anak-anak suruhannya diminta untuk menyetorkan seluruh uang hasil mengamennya. Jika aku tidak menyetorkan uang ngamen aku tak dapat makan. Pernah aku tidak menyetorkan uang kepadanya. Hasilnya, aku tak dapat makan. Aku merasa kesakitan, menahan lapar yang terus menerjang. Aku hanya meminta sepotong roti pun tak dikasih oleh Badrock. Aku pun memutuskan untuk tidur sambil memegang perut yang keroncongan.

            Pagi tiba, aku memilih ngamen lebih awal daripada terus menerus di tempat seorang narapidana yang menyeramkan. Ingin sekali aku kabur, tapi rasanya tak mungkin. Di manapun aku berada, pasti Ia dapat menemukanku. Pantas lah dia dapat menemukanku dengan sanga mudah. Sebab, ia sudah mengetahui betul tempat-tempat yang ada disini. Pernah sekali aku kabur, aku sudah tak tahan dengan perlakuan kasar darinya. Akan tetapi, aku gagal untuk kabur. Aku berhasil ditemukan olehnya, lalu diseret ke tempat semula. Tempat yang menyeramkan.

Kejadian tak biasa, aku dibawa ke suatu tempat yang penuh dengan rahasia. Tepatnya, rumah mewah yang berdiri sendiri di tengah hutan. Suasananya begitu tenang, sunyi, namun juga menyeramkan. Badrock memintaku untuk pindah ke tempat ini. Dia bersikap halus kepadaku. Aku bingung menanggapinya, tidak seperti biasa dia bersikap halus padaku. Dalam hati, ku sedikit curiga. Tapi, biarlah mungkin dia sadar dengan perlakuan kasarnya.

Senangnya aku pindah dan lepas dari genggaman Badrock. Akan tetapi, firasatku tidak enak setelah masuk ke dalam tempat ini. Aku mencium aroma obat bius dari suatu kamar yang sangat kucurigai. Aku pun mengintip lewat lubang kunci di pegangan pintu. Sedikit demi sedikit aku dapat melihat dengan jelas.

Hal tak terduga, seorang anak kecil dibius dan dibelah dadanya. Entah untuk apa kegiatan ilegal tersebut dioperasikan. Dalam pikiranku terlintas, “Jangan-jangan hal itu juga sama menimpaku”. Aku pun bergegas berlari untuk kabur. Tapi sayang semua pintu rumah tergembok, dan niat kaburku  ketahuan oleh penjaga rumah itu. Aku langsung dikurung bersama anak-anak jalanan yang seumuran denganku. Aku merasa ketakutan, dalam benakku aku tak mau kejadian seperti ini. Lebih baik aku mengamen dan menerima bentakan atau pukulan dari Badrock daripada harus mengorbankan nyawa sendiri untuk hal yang tak pasti.

Aku tak mau mati sia-sia. Aku masih ingin hidup. Barangkali ada orang tua yang mau mengadopsiku menjadi anaknya. Aaah lupakan, hal terpenting saat ini adalah bagaimana aku bisa kabur. Aku menyusun rencana bersama kawan-kawanku untuk menjebol tembok dengan berbagai alat yang tersedia di kurungan.

Perlahan-lahan, aku membuat lubang kecil dengan besi dan kayu. Aku jadikan besi itu sebagai alat pahat dan kayu untuk memukul besinya. Sedikit-demi sedikit, timbullah lubang. Walaupun menguras tenagaku, aku tak ingin mengeluh apalagi menyerah. Aku terus membuat lubang. Akhirnya, ukuran lubang tembok pun membesar. “Cukuplah, untuk anak kecil sepertiku yang berumur 13 tahun untuk melewati lubang ini”, kataku dengan riang. Satu per satu, aku dan kawan-kawan melewati lubang ini.

Setelah itu, aku berlari dengan kencang untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Akhirnya, aku menemukan jalan keluar, aku bergegas mencari kantor polisi untuk melaporkan kejadian ilegal di rumah mewah di tengah hutan. Aku terus berlari sampai keringat pun bercucuran. Tak kusangka, ada gerombolan mobil polisi menuju ke arahku. Polisi itu pun keluar menuju ke arahku, tanpa basa-basi, aku langsung melaporkan mengenai kejadian ilegal di rumah mewah itu dengan nada ngos-ngosan.

Polisi pun paham, sebab tujuan dari patrolinya adalah mencari seorang narapidana bernama Badrock dan menghentikan operasi ilegal di rumah mewah. Setelah perbincangan yang begitu serius selesai, aku dibawa para polisi ke dalam mobil untuk menunjukkan tempat persembunyian Badrock. Tak butuh waktu lama, polisi pun dapat menangkap Badrock dan menghentikan operasi ilegal di rumah mewah. Semua orang yang terlibat dalam operasi ilegal itu berhasil ditangkap.

      Aku merasa senang, akhirnya segala kejahatan di sekitarku terbongkar dan tertuntaskan. Aku pun mendapat tempat yang layak yaitu tempat perlindungan anak.  Di sana, aku mendapat banyak pembelajaran yang dapat dijadikan motivasi dan semangat hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alunan Kisah

Puisi Menantimu