Berakhir di Dua Centang Biru
(sumber ilustrasi: https://phinemo.com/quote-senja/)
Senja
di sore hari menampakkan keharmonisan dan kelembutan. Burung-burung berkicau
dengan riang. Kumpulan serangga menunjukkan suara emasnya. Suara mereka terdengar
merdu. Angin sepoi-sepoi mengusik raga. Angin yang membisikkan untuk pejamkan
mata. Sungguh, angin itu membuat setiap orang mengantuk.
Waluyo,
seorang lelaki yang membuat hati Dewi luluh dan kagum. Ketika Waluyo berbicara,
Dewi selalu membetulkan semua ucapannya itu. Mungkin, karena Dewi menaruh hati
pada Waluyo. Waluyo seorang aktivis kampus. Ia sering memimpin diskusi di organisasi yang diikutinya. Semua kelebihan Waluyo, Dewi mengetahui karena ia
sering mengamati dan mencari informasi tentang Waluyo.
Pada
sore hari, diadakan diskusi mengenai masalah ekologi (Ilmu yang mempelajari
tentang lingkungan) di kampus. Kebetulan topik yang dibahas pada diskusi ini
adalah topik kesukaan Dewi. Dewi datang paling awal sebab ia tidak
ingin ketinggalan bahasan diskusi kali ini. Namun, ternyata belum ada orang
sama sekali. Setelah menunggu beberapa menit, tak kunjung ada anggota yang hadir.
Dewi mulai bosan. Tiba-tiba, dari arah belakang muncul sosok lelaki, “Maaf dek,
sudah nunggu lama ya?”, ucap Waluyo. Dewi terkejut. “Hmm, iya kak tidak
apa-apa,” jawab Dewi dengan kebingungan. Tiba-tiba, jantungnya berdetak kencang
dan rasa yang gugup. Mungkin, efek adanya Waluyo. Sembari menunggu kawan-kawan
yang lain, Dewi ditanya panjang lebar oleh Waluyo. Dewi pun menjawab apa adanya
dengan sangat polos. Maklum saja, karena Dewi masih Mahasiswa baru (Maba).
Setelah lama menunggu, ternyata di grup WhatsApp (WA) ramai dengan
anggota yang izin tidak bisa mengikuti diskusi. Oleh karena itu, diskusi kali
ini dibatalkan.
Menjelang
maghrib, mereka bergegas pulang. Secara spontan, Waluyo menawarkan Dewi pulang
bareng. Dewi bingung, jika ia menolak ada rasa tak enak hati, kalau menerima
tawaran dari Waluyo, Dewi merasa malu dan canggung. Akhirnya, Dewi memutuskan
menerima tawaran Waluyo. Di sepanjang
jalan, Waluyo bercerita tentang dirinya. Dewi pun terus mendengarkan dengan
saksama. Dewi baru tahu bahwa Waluyo seorang anak yatim piatu. Sempat Dewi tak
menduga. Selain yatim piatu, Waluyo bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhannya
selama kuliah. Mendengar ceritanya, Dewi pun meneteskan air mata.
Sejak
kenal dengan Waluyo, jiwa kepolosan dan keluguan Dewi mulai hilang. Tanpa
berpikir lebih jauh, Dewi selalu menerima tawaran diskusi malam dari Waluyo.
Organisasi yang mereka ikuti terkadang melakukan diskusi dan bincang-bincang
santai di angkringan. Di sana banyak anak muda yang sedang mengerjakan tugas,
ngobrol dengan teman, berdiskusi, dsb. Intinya, tempat itu sudah menjadi tempat
nongkrong anak muda zaman sekarang. Berbagai macam menu makanan, minuman, camilan
tersedia di sana, ditambah ada wi-fi pula. Pokoknya tak
diragukan lagi tempat itu rekomendasi utama sebagai tempat nongkrong anak muda.
Akibat
Dewi dan Waluyo sering bertemu, membuat mereka berdua seperti saling suka.
Waluyo tak sungkan untuk mengantarkan Dewi berangkat ke kampus dan menjemputnya
untuk diskusi malam di angkringan. Sering juga, Dewi dibelikan buku tentang
ekologi. Tak pernah terduga, lelaki yang selama ini Dewi idam-idamkan, sekarang
dekat dengannya dan menaruh perhatian lebih. Dewi begitu terbawa perasaan
dengan sikap Waluyo. Mengapa tidak, ia selau ngechat dan mengomentari
status WA yang Dewi buat. Kejadian itu membuatnya semakin yakin bahwa Waluyo
benar-benar menyukai Dewi sehingga setiap hari ia online hanya untuk
Waluyo. Berhari-hari yang Dewi pegang adalah handphone. Sempat Dewi
mengabaikan ibadah, belajar, dan segala rutinitas yang membuatnya bisa
produktif.
Namun,
hal indah yang Dewi alami dengan Waluyo tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Waluyo
menghilang tanpa kabar. Pada diskusi pun ia tak hadir. Dewi terus
bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Sempat Dewi berpikir, “Apa mungkin, Waluyo
tersinggung dengan ucapanku di WA?”, tanyanya dalam batin. Ceritanya begini,
dulu Dewi sempat membuat status mengenai rokok dan bahayanya. Kemudian status
tersebut langsung dikomen oleh Waluyo. Hal itu yang membuat mereka berdebat. Waluyo
memandang rokok itu baik sedangkan Dewi kebalikannya. Waluyo pemihak rokok
karena ia ternyata seorang perokok berat. Sempat Dewi tak menduga. Lelaki yang
selama ini Dewi idam-idamkan ternyata seorang perokok. Dewi termasuk orang yang
antirokok. Namun, karena Dewi sudah terlanjur menyayangi Waluyo, Dewi tidak mempermasalahkan
rokok. Dewi menasihati Waluyo untuk mulai berhenti merokok. Sejak saat itu,
Waluyo jarang membalas chat dari Dewi.
Setelah
lama menghilang, Waluyo dikabarkan mengonsumsi narkoba. Dewi benar-benar syok,
tubuhnya lemas. Hati dan pikirannya kacau. Tak nafsu makan dan malas melakukan
sesuatu. Apalagi membuka chat dari grup yang membahas tentang Waluyo,
berbagai makian, perkataan kotor ditujukan kepada Waluyo. Dewi sebagai teman
dekatnya tidak terima akan hal itu, dan berusaha untuk menasihati teman-teman
yang menghujat Waluyo. Melihat keadaan Waluyo, Dewi terus memberikan support
dan berusaha menguatkan mentalnya.
Sejak
Waluyo masuk jeruji besi, Dewi merasa kesepian. Setiap saat, Dewi selalu
menyempatkan diri untuk melihat keadaan Waluyo sekaligus membawakannya makanan.
Mukanya pucat, badannya kurus seperti kekurangan asupan gizi. Ketika mereka bertemu,
Waluyo sempat meminta maaf kepada Dewi tentang kesalahan yang telah ia perbuat.
Waluyo benar-benar menyesal terhadap dirinya sendiri dan hampir ia putus
harapan untuk hidup. Namun, Dewi selalu memberikan motivasi kepada Waluyo yang
membuatnya bergairah untuk hidup.
Setelah
bebas dari penjara, sikap Waluyo yang selalu terbuka kini berubah menjadi
tertutup. Ia biasanya selalu menawari Dewi pulang kampus bareng, namun sekarang
tidak lagi. Sekarang Waluyo suka menyendiri sambil memejamkan mata dan mulut
yang komat-kamit. Ternyata, Waluyo sedang berzikir. Sikap Waluyo berubah
drastis setelah keluar dari penjara.
Menjelang
sore, Dewi sering pergi ke gubuk di tepi
sawah untuk menikmati senja di sana. Dewi membawa handphone untuk memotret
senja sore. Tiba-tiba, ada notifikasi pesan masuk dari Waluyo. Dewi langsung
membuka dan membacanya. Isi pesannya sungguh mengejutkan. Pesan dari Waluyo
seperti ini, “Terima kasih kamu telah memberikan dukungan dan motivasi kepadaku
selama di penjara. Kamu memang wanita yang baik dan perhatian, Kak Waluyo minta
maaf, akhir-akhir ini bersikap cuek kepada kamu. Jaga diri baik-baik ya. Saya
minta tolong, kamu bisa melupakan saya, kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik
dari saya. Saya mohon pamit dek, saya memilih untuk cuti dari kampus dan saya
akan belajar agama di pondok. Sekian.” Setelah membaca pesan dari Waluyo, Dewi
menangis dan sedikit kecewa. Di saat Dewi sedang merasa nyaman dan sayang dengan sosok Waluyo, Waluyo pergi meninggalkannya. Dewi pun membalas pesan dari Waluyo, “Kakak juga
jaga diri ya, semoga baik di sana,” (pesan terkirim pada Sabtu pukul 17.30
WIB). Waluyo langsung membaca pesan dari Dewi ditandai dengan dua centang biru.
Dewi berharap langsung ada balasan dari Waluyo. Namun, sampai berjam-jam Dewi menunggu,
tak ada balasan dari Waluyo. Bahkan, setiap hari Dewi mengecek handphone, dan
ternyata tak ada pesan masuk dari Waluyo. Dilihat kontaknya, “terakhir dilihat
Sabtu 17.30”, itu menandakan pesan Dewi berakhir tanpa ada jawaban dari Waluyo.
Sejak saat itu Dewi mulai move on dan tak mau berharap lagi dengan
manusia. Melalui pengalaman yang telah dialami, Dewi belajar untuk tidak berlebihan lagi dalam mencintai
manusia.

Komentar
Posting Komentar