Resensi Buku Hijrah Ilmu
Kilas Balik Perjuangan Anak Rantau yang Memotivasi
![]() |
| sumber foto |
Judul : Hijrah Ilmu
Penulis :
Muhammad Asary
Penerbit : Diandra Kreatif
Cetakan :
Pertama, Desember 2016
Tebal :
iv + 210 halaman
ISBN :
978-602-336-338-4
Peresensi : Elly Dwi Yulianti
Novel berjudul Hijrah Ilmu merupakan
karya pertama Penulis Muhammad Asary. Kisah novel tersebut diangkat dari kisah
nyata pengalaman pribadi penulis. Dalam novel menceritakan bagaimana perjuangan
Ahmad (Muhammad Asary) seorang anak rantau dalam menggapai mimpinya. Mimpi
untuk dapat berkuliah di sebuah kampus ternama, Universitas Brawijaya, Malang.
Ahmad adalah seorang anak desa yang
berasal dari Kumai, Kalimantan Tengah yang ingin berkuliah di Pulau Jawa.
Awalnya, niat untuk berkuliah dirasa mustahil, melihat keadaan ekonomi keluarganya
yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, ia tidak putus asa dan terus berusaha. Ia
rajin membantu kedua orang tuanya untuk berjualan daging kerang simping yang
dihargainya Rp2.500,00 per bungkus.
Tahun 2000 menjadi kenangan terpahit
yang dirasakan Ahmad dan keluarganya. Di mana saat itu terjadi kerusuhan,
tepatnya di Kota Sampit. Desa yang menjadi tempat tinggal Ahmad pun terkena
imbasnya. Akibat kerusuhan tersebut, Ahmad kehilangan beberapa anggota
keluarganya. Setelah terjadi kerusuhan, muncul musibah baru yang menimpa Ahmad
dan keluarganya. Motor sang ayah hilang. Motor sebagai sumber nafkah untuk
ayahnya mengojek telah tiada.
Setelah musibah yang menimpanya membuat
terpukul ia berusaha bangkit dan tak lupa akan niatnya untuk berkuliah. Ia rela
banting tulang untuk bekerja serabutan sebagai tenaga pengajar honorer di
sekolah agama dan juga membuka les private untuk anak-anak sekolah dasar yang
ingin belajar bahasa Inggris. Ia juga kerap mengisi hari liburnya untuk bekerja
sebagai tour guide dadakan bagi
wisatawan asing yang berlibur di kotanya. Semuanya hanya untuk satu tujuan
yaitu menabung agar bisa mendaftar kuliah. Setelah beberapa lama ia menabung,
ternyata uang yang terkumpul tidak cukup untuk mendaftar kuliah. Akhirnya, ia
memutuskan untuk menyedekahkan uang tabungannya ke masjid. Ahmad yakin dengan
bersedekah akan memudahkan segala urusannya.
Secercah harapan muncul untuk Ahmad agar
bisa kuliah. Ketika ibunya menemukan sebuah surat di bawah bantal tidur Ahmad. Surat itu berisi tentang mimpinya yang ingin
kuliah. Mimpi yang di tulis pada kertas pun terwujud. Semua keluarganya sepakat
untuk mendaftarkan Ahmad kuliah di Pulau Jawa. Ahmad memilih Universitas
Brawijaya sebagai tempat untuk menimba ilmu. Setelah mengikuti tes ujian, ia
dinyatakan lolos seleksi. Ia diterima pada pilihan pertamanya, jurusan
Managemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan. Di kampus, ia termasuk
mahasiswa yang aktif dan berprestasi. Selain sebagai aktivis kampus, ia
berhasil lolos seleksi dalam lomba karya tulis ilmiah yang mengantarkan ia
pergi ke Korea Selatan secara gratis.
Hanya membutuhkan waktu 3 tahun 8 bulan untuk
menyelesaikan studinya di kampus
Brawijaya. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa karena dapat lulus tepat
waktu dengan predikat cumlaude. Kedua
orang tua Ahmad sangat bangga atas prestasi yang diraih anaknya itu.
Setelah lulus, Ahmad berencana untuk
berwirausaha franchise di jalanan. Ia
pun tak lupa untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya. Sang ayah
mengizinkan dan mendukung langkah Ahmad. Di sisi lain, ibunya tidak setuju
Ahmad melakukan wirausaha tersebut. Ibunya memandang berwirausaha di jalanan
bukanlah suatu pekerjaan yang pantas untuk Ahmad lakukan sebagai lulusan
sarjana yang berprestasi. Muncul polemik antara Ahmad dan ibunya hingga mereka
kehilangan komunikasi.
Ahmad pun terus melanjutkan wirausaha franchise tersebut hingga ia berhasil
membuka beberapa cabang. Dalam berwirausaha tidaklah selalu berjalan mulus, di
tengah wirausahanya ia mengalami kerugian. Di sisi lain, ia tidak fokus dalam
bekerja dikarenakan ia selalu mengingat ibunya. Ia pun berhenti berwirausaha.
Keinginan kedua orang tuanya agar Ahmad dapat pulang ke Kalimantan dan bekerja
di sana terwujud. Ahmad lebih memilih saran dari kedua orang tuanya untuk
pulang dibandingkan ambisinya berwirausaha di Malang. Karena
bagaimana pun restu kedua orang tua lebih penting sebagai jalan menuju
kesuksesan.
Novel setebal 210 halaman yang
menggambarkan perjuangan anak rantau dalam menggapai mimpinya berhasil membuat
pembaca termotivasi. Di balik perjuangan yang penuh cobaan muncul obat penawar
yaitu sebuah motivasi. Hal tersebut yang menjadikan hati setiap insan tergerak
untuk bangkit dari keterpurukan. Berbagai kalimat motivasi tersaji dalam setiap
bab menambah nilai positif bagi pembaca. Salah satunya pada bab yang berisi motivasi dari presiden
pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, beliau pernah berkata, "Barangsiapa ingin mutiara, ia harus berani
terjun di lautan yang dalam”. Maksudnya ketika kita menginginkan suatu
keberhasilan, maka harus berani berjuang. Setiap manusia pasti mempunyai mimpi
dan mereka pasti akan memperjuangkannya agar terwujud. Tetapi, tidak semua
manusia bertahan dalam setiap cobaan yang menimpanya di kala mereka berjuang.
Perlu adanya kesabaran dalam berjuang. Seperti pesan dari Ali bin Abi Thalib, “Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas
banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa
pedihnya rasa sakit”. Kutipan tersebut peresensi peroleh dari novel Hijrah
Ilmu.
Alur cerita yang tak mudah ditebak membuat
pembaca penasaran sehingga mendorong untuk mengikuti kisah perjuangan tokoh
Ahmad dari awal sampai akhir. Rasa greget bercampur kecewa pun muncul ketika
tokoh Ahmad menolak bekerja di sebuah perusahaan dan lebih memilih untuk
berwirausaha di jalan. Cerita yang di kemas menarik disertai adanya bahasa
daerah khas Kalimantan Tengah menambah nilai edukasi untuk pembaca. Misalnya Ka’i sebutan untuk kakek, ulun sebutan untuk diri sendiri (saya),
dsb. Hal yang sangat peresensi sayangkan
terdapat pada bagian akhir cerita. Pada bagian tersebut kurang diceritakan
secara detail pekerjaan tokoh Ahmad di kampung halamannya, Kumai, Kalimantan
Tengah. Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi peresensi.
Secara umum, novel Hijrah Ilmu sangat
bagus dilihat dari banyaknya nilai positif yang tersaji. Sehingga sangat cocok
dinikmati semua kalangan baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat.

Good
BalasHapusMasyaAllah
HapusGood.....
BalasHapusNB : lettering identitas buku dirapikan lagi :)
moga bisa bermanfaat bagi yg membacanya
HapusAamin
Hapusmoga bermanfaat bagi temen temen semua
BalasHapusAamiin
Hapus👏👏
BalasHapus😃
Hapus