Cerita Flashback
Kisah Nyata!
Kisah ini diambil dari pengalaman pribadi penulis ketika masih SMP kelas 8 dan ditulis ketika SMA kelas 12
"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya"
FLASHBACK
Lima tahun yang
lalu, awal kejadian yang sangat mengerikan bagiku yang pernah aku alami saat mengendarai sepeda motor. Tepatnya, setelah
aku pulang les dari rumah Bu Mum. Bukannya langsung pulang, aku bermain dahulu
ke rumah teman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Bu Mum.
Sebelumnya,
perkenalkan namaku Elly Dwi Yulianti, sekarang aku duduk di bangku kelas 2 SMP
atau lebih tepatnya kelas 8 B di SMPN 2 Rakit, biasa disingkat “Espora”. Espora
merupakan sekolah terbaik di kecamatan Rakit, walaupun tempatnya terletak di
desa, dan mewah (mepet sawah), tetapi prestasi di SMP ku tidak kalah saing dengan SMP
yang ada di kota. Alhamdulillah, SMP ku sudah berstandar nasional atau biasa
disebut dengan Sekolah Berstandar Nasional (SSN).
Di sekolah, aku ditunjuk oleh ibu guru untuk
mengikuti lomba Olimpiade IPS yang akan dilaksanakan Maret mendatang. Aku
pun bergegas meminjam buku ke ibu guru IPS ku yang bernama Bu Mum. Berbagai
macam buku ips, aku pinjam mulai dari buku sejarah, geografi, dan buku kumpulan
soal. Setelah buku-buku itu aku pinjam, aku langsung membaca dan
mempelajarinya. Hampir setiap hari aku senang membaca buku IPS, apalagi materi
geografi. I like it. Dulu, aku sangat senang pergi ke kantor untuk menanyakan
soal-soal yang susah kepada guruku. Apabila aku masuk ke kantor, aku langsung
membungkukkan badan, dan berkata, “Permisi pak/bu”. Pak guru yang aku lewati
seraya berbicara, "Loh, ini anak yang berbicara di mana, kok nggak
kelihatan”, (sambil tersenyum). Aku langsung merespon, “Kula teng mriki
pak”. (sambil tersenyum). Dalam batin aku menebak alasan pak guru berbicara
seperti itu kepadaku, “Pasti pak itu berfikir, sudah anaknya kecil, tapi
terlalu membungkuk.” Aku sadar, fisikku kecil, dan aku sedikit tersinggung
dengan perkataan dari pak guru. Tapi, aku menganggap itu hanyalah sebuah
candaan.
Seiring
berjalannya waktu, semangat belajar ku berkurang. Mungkin karena aku sudah
merasakan titik kejenuhan. Kadang aku membaca dengan sistem cepat, tapi aku
tidak menghayatinya. Akibatnya, aku tidak paham. Buku yang aku pinjam banyak,
tetapi sangat sedikit buku yang telah aku baca sampai tuntas. Kadang, aku
menyemangati diriku sendiri agar kembali semangat. Hasilnya, kadang berhasil
kadang tidak. Hingga pada akhirnya semangatku kembali.
Pada hari libur,
aku berpamitan dengan kakek nenek, aku
hendak pergi les ke tempat Bu Mum yang berada di desa Cikura, Luwung.
Aku pun langsung bergegas berangkat dengan mengendarai sepeda motor.
Sesampainya di tempat tujuan, aku langsung mengetuk pintu, "Assalamu’alaikum, Bu
Mum". Lalu ada yang menjawab, "Wa’alaikumussalam", akan tetapi itu bukan suara Bu Mum melainkan suara dari tukang yang sedang bekerja di rumah Bu Mum. Pak
tukang itu bilang kepadaku agar aku menunggu sejenak, karena Bu Mum sedang
pergi. Aku pun menunggunya sambil melihat sekeliling. Tak begitu lama, Bu Mum
datang dengan sepeda motornya, “Masuk saja Elly”, ucap Bu Mum. “Iya bu,
terimakasih”. Akupun langsung masuk ke rumah. Di sana, aku diajari soal ekonomi
cara menghitung pajak. Setelah beberapa lama, aku berpamitan dengan Bu Mum. Aku
pun bergegas mengendarai sepeda motorku untuk kembali. Akan tetapi, aku tidak
langsung pulang. Aku bermain dahulu ke rumah temanku yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari tempat Bu Mum. Temanku bernama Febri. Tetapi, Febri memberitahukanku melalui sms bahwa ia tidak berada di rumah, ia sedang berada di rumah
temannya. Kebetulan temannya dia adalah temanku juga, namanya Asa. Aku pun
langsung menghampiri Febri di rumah Asa. Di sana, kita menonton televisi bersama
sambil makan cemilan. Tak begitu lama, aku dan Febri langsung pamit pulang. Aku
mengantarkan Febri ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor, dia di belakang
dan aku yang di depan. Ia juga menunjukkan jalan menuju rumahnya. Begitu kita
hampir sampai, ternyata masih ada jalan yang harus dilalui yaitu sebuah jalan
yang sangat curam. Aku pun langsung turun, hal yang tak terduga terjadi. Sepeda
motorku melaju dengan sangat cepat hampir tidak terkendali, aku pun langsung
mengerem. Akan tetapi, remnya tidak berfungsi, motorku melaju begitu cepat.
Aku sangat panik, aku pun menangis sambil berkata, “Ya Allah, bagaimana ini”, terlintas di pikiranku aku akan tercebur ke kolam dan aku akan meninggal.
Temanku pun berteriak, “Elly, El, gimana ini?” Pikiranku kosong, tak tau lagi apa yang harus aku lakukan selain berdo'a pada Nya. Akan tetapi, takdir berkata lain, Allah masih memberikan aku dan temanku keselamatan. Alhamdulillah, di sekitar kolam ada tanah yang teksturnya agak lembek. Sepeda motorku tertancap tanah tersebut yang pada akhirnya dapat terhenti. Berkat pertolongan Allah lah, aku dan temanku selamat.
Komentar
Posting Komentar